Tampilkan postingan dengan label ETIKEP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKEP. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

KODE ETIK KEPERAWATAN MENURUT PPNI,ICN,ANA


Kode Etik Menurut PPNI

Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.
Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pinpinan Pusat Persatuan Perawat Nasioanl Indonesia (DPP PPNI) melalui munas PPNI di Jakarta pada tangal 29 November 1989.
Fungsi Kode Etik Perawat
Kode etik perawat yang berlaku saat ini berfungsi sebagai landasan bagi status profesional dengan cara sebagai berikut:
1. Kode etik perawat menunjukkan kepada masyarakat bahwa perawat diharuskan memahami dan menerima kepercayaan dan tanggungjawab yang diberikan kepada perawat oleh masyarakat
2. Kode etik menjadi pedoman bagi perawat untuk berperilaku dan menjalin hubungan keprofesian sebagai landasan dalam penerapan praktek etikal
3. Kode etik perawat menetapkan hubungan-hubungan profesional yang harus dipatuhi yaitu hubungan perawat dengan pasien/klien sebagai advokator, perawat dengan tenaga profesional kesehatan lain sebagai teman sejawat, dengan profesi keperawatan sebagai seorang kontributor dan dengan masyarakat sebagai perwakilan dari asuhan kesehatan
4. Kode etik perawat memberikan sarana pengaturan diri sebagai profesi.
Kode etik keperawatan Indonesia : Terdiri dari 5 Bab, dan 17 pasal. yaitu:

1. Tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat
a. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya senantiasa berpedoman kepada tanggungjawab yang bersumber dari adanya kebutuhan akan keperawatan individu, keluarga dan masyarakat.
b. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya di bidang keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat-istiadat dan kelangsungan hidup- beragama dari individu, keluarga dan masyarakat.
c. Perawat dalam melaksanakan kewajibannya bagi individu, keluarga dan masyarakat senantiasa dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.Tanggungjawab terhadap tugas
d. Perawat senantiasa menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga dan masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan khususnya serta upaya kesejahteraan umum sebagai bagian dari tugas kewajiban bagi kepentingan masyarakat.
2. Tanggungjawab terhadap tugas
a. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu, keluarga dan masyarakat.
b. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
c. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
d. Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama yang dianut serta kedudukan sosial.
e. Perawat senantiasa mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam melaksanakan tugas keperawatan serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalihtugaskan tanggungjawab yang ada hubungannya dengan keperawatan.
3. Tanggungjawab terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya
a. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan dengan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara kerahasiaan suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
b. Perawat senantiasa menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
4. Tanggungjawab terhadap profesi keperawatan
a. Perawat senantiasa berupaya meningkatkan kemampuan profesional secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
b. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan menunjukkan perilaku dan sifat pribadi yang luhur.
c. Perawat senantiasa berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan dan pendidikan keperawatan.
d. Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
5. Tanggungjawab terhadap pemerintah, bangsa dan negara
a. Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang diharuskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
b. Perawat senantiasa berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.

Kode Eik Menurut ICN
ICN adalah suatu federasi perhimpunan perawat di seluruh dunia yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1899 oleh Mrs.Bedford Fenwich di Hanover Square, London dan direvisi pada tahun 1973. Adapun kode etiknya adalah sebagai berikut :
1. Tanggung jawab utama perawat :
Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut, perawat harus meyakini bahwa :
a. kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai tempat adalah sama.
b. pelaksanaan praktik keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasimanusia.
c. dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan /atau keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
2. Perawat, individu, dan anggota kelompok masyarakat.
Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan masyuarakat. Oleh karena itu , dalam menjalankan tugas, perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungan kesehatan dengan menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat, menghargai aadat kebiasaan serta kepercayaan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menjadi pasien atau kliennya. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi (privasi) dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukaan oleh pihak yang berkepentingan atau pengadilan.
3.Perawat dan pelaksanaan praktik keperawatan
Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar praktik keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya secara aktif untuk menopang perannya dalam situasi tertentu. Perawat sebagai anggota profesi, setiap saat dapat mempertahankan sikap sesuai dengan standar profesi keperawatan.
4. Perawat dan lingkungan masyarakat
Perawat dapat memprakarsai pembaharuan, tanggap, mempunyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam menentukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
5. Perawat dan sejawat
Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman kerja, baik tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di keperawatan. Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang, bila dalam masa perawatannya merasa terancam.
6. Perawat dan profesi keperawatan
Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan standar praktik keperawatan dan pendidikan keperawatan . Perawat diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam menopang pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat sebagai anggota profesi berpartisipasi dalam memelihara kestabilan sosial dan ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktik keperawatan.
Kode Etik Menurut ANA
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawab moral.
1. Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan status sosial atau ekonomi, atribut personal atau corak masalah kesehatan.
Analisis: Dalam kode etik menurut ANA. Menurut analisis kami, bahwa point ini sangat penting sekali dalam sebuah profesi terutama perawat, karena dalam sebuah pekerjaan terutama kita sebagai calon perawat diwajibkan untuk memberikan pelayanan dengan baik, sopan, santun, serta dengan penuh hormat terhadap pasien. Dan kita juga jangan pernah membeda-bedakan pasien, seperti keluarga pejabat dengan keluarga tukang becak, semuanya harus diperlakukan sama. Tapi sesuai dengan fakta sekarang bahwa pelayanan diberbagai RS, 75 % sangat membeda-bedakan antara keluarga perawat dengan keluarga tukang becak. seharusnya pelayanan seperti itu harus dihapuskan karena pelayanan seperti itu tidak adil, tidak sesuai dengan kode etik keperawatan.
2. Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia.
Analisis : Menurut kami, point ini sangat pentingsekali dalam sebuah profesi terutama perawat. Karena dalam sebuah profesi terutama kita sebagai orang kesehatan mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan dengan baik, sopan, santun, serta menghormati privasi klien. Selain itu, kita sebagai tenaga kesehatan sudah seharusnya melindungi, memenuhi hak-hak klien dan menjaga penuh segala informasi-informasi yang bersifat rahasia. Sesuai dengan fakta sekarang, yang terjadi saat ini, bahwa pelayanan kesehatan diberbagai rumah sakit, agak tidak sesuai dengan tugas perawat sebagaimana mestinya, karena perawat sekarang bekerja dengan apa adanya, serta kurangnya fasilitas-fasilitas kesehatan yang disediakan di rumah sakit tersebut.
3. Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh praktek seseorang yang tidak berkompoten, tidak etis atau illegal.
Analisis : Menurut analisis kami, tentang pernyataan tersebut bisa diartikan bahwa sebagai seorang perawat harus bisa menjaga kesehatan dan keselamatan klien dan publik karena hal tersebut merupakan tugas pokok yang harus dikerjakanoleh seorang perawat. seorang perawat juga harus bisa melakukan tugasnya dengan etika, legal, juga berkompeten. supaya klien dan publik selamat, tidak terancam gagal praktek, sehingga klien dan publik dapat terlimdungi dengan baik.
Sedangkan menurut pandangan agama : Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas segala tugas-tugasnya, oleh karena itu, seorang perawat yang profesional harus bisa bertanggung jawab terhadap segala tugas-tugas dan perbuatannya.
4. Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang dijalankan masing-masing individu.
Analisis : Menurut pendapat kami Betul, karena seorang perawat harus bisa mempertanggung jawabkan atas semua tindakan dan pertimbangannya terhadap pasien yang dirawatnya. Apabila terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki ataupun diluar prediksi, maka seorang perawat harus semaksimal mungkin bias mengembalikan keadaan menjadi seperti sedia kala karena dengan adanya kode etik keperawatan tersebut, semua perawat yang mempunyai jiwa tanggung jawab yang tinggi, akan melaksanakan semua pelayanan kepada pasien dengan professional dan mengacu kepada kode etik tersebut. sehingga, pasien akan merasa puas dengan pelayanan perawat tersebut. Menurut kami, fakta yang sekarang ada, tidak semua perawat pada umumnya dapat bertanggung jawab pada tindakan yang diberikan kepada pasien, banyak perawat yang lari dari tanggungjawab sehingga banyak pasien tidak mempunyai kpercayaan kepada perawat, oleh sebab itu, kita harus bertanggungjawab terutama pada profesi kita yaitu profesi keperawatan.
5. Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
Analisis : artinya, perawat harus tetap mempertahankan bahkan menambah atau mengembangkan wawasan yang mereka miliki. supaya bisa berlomba dengan perawat lain untuk menjadi perawat yang lebih baik. dan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi seluruh klien. Namun faktanya sekarang masih banyak pelayan kesehatan, yang memberi pelayanan kesehatan yang kurang memuaskan bagi masyarakat sehingga pelayanan kesehatan tersebut kurang baik dimata mastarakat.
6. Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
Analisis : Menurut analisis kami, point ini sangat penting dalam kode etik keperawatan. Jadi kita sebagai perawat harus bisa mempunyai dan memahami body knowledge keperawatan dengan baik. Sehingga kita bisa menjadi narasumber dan memberikan pendidikan kepada masyarakat baik individu ataupun kelompok sehingga dapat dipertangungjawabkan.
7. Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi.
Analisis : meurut analisis saya, poin tersebut sangat penting dalam kode etik keperawatan. karena seorang perawat itu harus aktif, beraktivitas sesuai profesinya. selain itu juga perawat harus mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas tentang profesinya. selain untuk dirinya sendiri, seorang perawat harus bisa mengembangkan pengetahuan profesinya kepada orang lain, salah satunya bisa dilakukan dengan cara pelatihan-pelatihan atau seminar kesehatan. dengan cara tersebut, sedikitnya wawasan kita akan bertambah, dari yang tidak tahu akan menjadi tahu. selain itu juga, dalam turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi, salah satu cirinya dengan adanya organisasi keperawatan . Nah, sebagai seorang perawat, kita harus ikut berpartisifasi dalam organisasi tersebut, guna untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Dilihat dari fakta sekarang, bahwa tidak semua perawat ikut berkecimpung didalam organisasi keperawatan, hanya sebagian saja. Tetapi didalam mengembangkan pengetahuan keperawatan menurut saya sudah cukup, karena terbukti dengan adanya bahkan banyak sekali sekolah-sekolah keperawatan yang ada saat ini, walaupun sebagian mungkin fasilitas-fasilitas keperawatannya masih kurang.
Sudut pandang menurut agama :
agama islam mengajarkan kepada kita supaya kita selalu senantiasa memberikan atau mengamalkan ilmu pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain, walaupun itu hanya sedikit saja, tetapi itu semua akan bermanfaat bagi kita.
8. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningfkatkan standar keperawatan.
Analisis : Point ini sangat penting dalam kode etik keperawatan karena sebagai seorang perawat kita harus bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk profesi kita. memang sudah selayaknya perawat itu bekerja sesuai standar etika keperawatan. Dan bila perlu prawat itu lebih mengembangkan wawasannya dan meningkatkan standar keperawatan untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada klien atau masyarakat agar tercipta image yang baik dimata masyarakat. Fakta sekarang membuktikan bahwa tidak sesuai dengan kode etik di atas, karena memang perawat sudah berusaha untuk menjadi perawat profesional tetapi nyatanya karena sarana dan prasarana yang ada kurang memadai jadi menuju perawat profesional itu memang sulit.
9. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.
Analisis : maksudnya sebagai seorang perawat kita harus memberi pelayanan kepada masyarakat itu yang berkualitas baik dimata masyarakat jangan sampai mengecewakan masyarakat,karna kalau masyarakat sudah pada tau bahwa pelayanan kita itu berkualitas maka masyarakat tidak akan menghormati dan memberi kesan yang baik kepada kita selaku pelayanan kesehatan.
10. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
Analisis : Menurut analisis kami, point ini sangat penting dalam kode etik keperawatan karena sebagai perawat harus bisa meluruskan terhadap arah yang menyimpang dalam propesi keperawatan. sehingga pihak lain dalam hal ini selain propesi perawat, bisa memprespektifkan informasi dan gambaran yang di terima secara benar, serta propesi perawat bisa mempertahankan cakupan kerjanya atau bidang garapnya agar tidak terambil oleh propesi lain.
11. Perawat bekerja sama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat lainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan public.
Analisis : Point tersebut penting dalam kode etik karena seorang perawat harus bekerja sama dengan anggota profesi kesehatan yang lain, demi meningkatkan mutu kesehatan publik, selain itu perawat harus bekerja sama dengan warga masyarakat lainnya, demi terwujudnya rasa kepercayaan dari warga masyarakat kepada perawat sehingga akan terjadinya pelayanan kesehatan yang baik. kalau di pandang menurut agama point ini adalah hal yang baik karena sama halnya dengan menjalin hubungan baik antaa sesama manusia. selain itu disini juga akan terjadi musyawarah karena antara perawat dan anggota profesi kesehatan akan mengupaiakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan public. Fakta yang ada adalah perawat banyak bekerja sama dengan anggota profesi kesehatan, satu sama lain saling membutuhkan tetapi antara perawat dengan warga masyarakat belum sepenuhnya terciptanya rasa kepercayaan dari masyarakat kepada perawat.

KONSEP KOMUNIKASI DAN ETIKA DALAM MELAKSANAKAN PEMBERIAN OBAT SECARA SUPOSITORIA DAN DALAM PENGAMBILAN SPESIMEN

KONSEP KOMUNIKASI DAN ETIKA DALAM MELAKSANAKAN PEMBERIAN OBAT SECARA SUPOSITORIA DAN DALAM PENGAMBILAN SPESIMEN
     A.    Pengertian
1.      Komunikasi
Komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan nonverbal dari informasi dan ide.
2.      Etika
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
 Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
 
     B.     Bentuk-bentuk Komunikasi
1.      Komunikasi Verbal
Proses komunikasi yang melibatkan komunikan menggunakan percakapannya untuk menyampaikan berita/ pesan kepada penerima. Misalnya perbincangan, ucapan, berita.
Aspek- aspek komunikasi verbal:
a.       Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.
b.      Kosakata
Komunikasi akan gagal jika penerima tidak dapat menelaah ungkapan dan kata-kata pengirim. Dalam keperawatan dan kedokteran terdapat berbagai istilah dan ungkapan tertentu. Maka ketika berbicara dengan pasien lebih baik menggunakan kata-kata yang bias dimengerti oleh pasien, karena hal ini akan membuat komunikasi lebih efektif.
c.       Humor
Sedikit hiburan akan menenangkan pasien serta dapat mengurangi ketegangan dan rasa sakit saat tindakan.
d.      Waktu yang tepat
Waktu yang tepat sangat penting dalam menangkap pesan.
2.      Komunikasi Non verbal
Komunikasi non-verbal adalah proses komunikasi dimana pesanan disampaikan tanpa menggunakan kata-kata. Gerakan tubuh member makna yang lebih jelas daripada kata-kata.
Aspek- aspek komunikasi non verbal
a.       Intonasi (Nada Suara)
Nada suara yang cukup nyaman di dengar akan memberikan rasa nyaman pada pasien, dan membantu mengurangi rasa tegang dari rasa sakitnya. Sebuah pesan dapat menunjukan antusiasme, perhatian, permusuhan, atau pengabaian bergantung pada intonasinya
b.      Ekspresi Wajah
Wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal.
c.       Sentuhan
Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun perawat harus mnemperhatikan norma sosial.


d.      Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh digunakan untuk menunjukan suatu ide yang sulit atau tidak nyaman jika digambarkan dalam kata-kata. Lambaian tangan, pemberian hormat, atau menggeser kaki adalah gerakan tubuh.
e.       Postur dan Gaya Berjalan
Cara orang berjalan dan bergerak adalah bentuk yang nyata dari ekspresi diri

    C.    Faktor yang mempengaruhi komunikasi
Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.
2.      Persepsi
Setiap orang merasakan, menginterpretasikan dan memahami kejadian secara berbeda. Perbedaan dalam persepsi antar individu yang berinteraksi dapat menjadi kendala dalam komunikasi.
3.      Harapan
Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.

4.      Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.
5.      Situasi
Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor situasi ini adalah:
a. Faktor ekologis (iklim atau kondisi alam)
b. Faktor rancangan dan arsitektural (penaataan ruang)
c. Faktor temporal, misal keadaan emosi
d. Suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
e. Teknologi
f. Faktor sosial, mencakup sistem peran
g.Lingkungan
h. Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku.
D.    Etika Yang Baik Dalam Komunikasi
Etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia dalam kehidupan sehari- hari :
1.      Jujur tidak berbohong
2.      Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3.      Lapang dada dalam berkomunikasi
4.       Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5.      Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6.       Tidak mudah emosi / emosional
7.       Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8.      Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9.       Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10.   Bertingkahlaku yang baik 
E.     Contoh Teknik Komunikasi Yang Baik
1.        Menggunakan kata dan kalimat yang baik menyesuaikan dengan lingkungan
2.         Gunakan bahawa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara
3.        Menatap mata lawan bicara dengan lembut
4.         Memberikan ekspresi wajah yang ramah dan murah senyum
5.        Gunakan gerakan tubuh / gesture yang sopan dan wajah
6.        Bertingkah laku yang baik dan ramah terhadap lawan bicara
7.        Memakai pakaian yang rapi, menutup aurat dan sesuai sikon
8.        Tidak mudah terpancing emosi lawan bicara
9.         Menerima segala perbedaan pendapat atau perselisihan yang terjadi
10.     Mampu menempatkan diri dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik lawan bicara
11.     Menggunakan volume, nada, intonasi suara serta kecepatan bicara yang baik.
12.     Menggunakan komunikasi non verbal yang baik sesuai budaya yang berlaku seperti berjabat tangan, hormat, cipika cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri)

F.     Metode Komunikasi Efektif
1.      Menyimak dengan penuh perhatian
2.      Mengajukan pertanyaan yang berhubungan
3.      Paraphrase
4.      Menjelaskan
5.      Fokus
6.      Memberikan informasi
7.      Mempertahankan ketenangan
8.      Penyimpulan


G.    Pemberian Obat Secara Supositoria
1.      pengertian
Pemberian obat supositoria adalah cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum  dan vagina dalam bentuk supositoria.
2.      Tujuan
a. Untuk memperoleh efek obat lokal maupun sistemik
b. Untuk melunakkan feses sehingga mudah untuk dikeluarkan
3.      Prosedur Kerja :
a.      Tahap Orientasi
1)    Memberikan salam sebagai pendekatan
2)    Menjelaskan tujuan  dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien
3)    Menanyakan kesiapan pasien sebelum kegiatan dilakukan
b.      Tahap Kerja
1)      Cek kembali order pengobatan, mengenai jenis pengobatan, waktu, jumlah dan dosis
2)      Siapkan klien
a)   identifikasikan klien dengan tepat dan tanyakan namanya
b)     Jaga privasi, dan mintalah klien untuk berkemih terlebih dahulu
c)       Atur posisi klien berbaring supinasi dengan kaki fleksi dan pinggul supinasi eksternal
d)     Tutup dengan selimut mandi dan ekspose hanya pada area perineal saja.
3)      Pakai sarung tangan
4)      Buka supositoria dari kemasannya dan beri pelumas pada ujung bulatnya dengan jelly. Beri pelumas sarung tangan pada jari telunjuk dari tangan dominan anda.
5)      Minta klien untuk menarik nafas dalam melalui mulut dan untuk merelakkan sfingter ani
6)      Regangkan bokong klien dengan tangan non dominan, dengan jari telunjuk masukkan supositoria ke dalam anus, melalui sfingter ani dan mengenai dinding rectal 10 cm pada orang dewasa dan 5 cm pada bayi dan anak – anak
7)       Tarik jari anda dan bersihkan area kanal klien
8)      Anjurkan klien untuk tetap berbaring terlentang atau miring selama 5 menit
9)      Bila supositoria mengandung laksatif atau pelunak feses, letakkan tombol pemanggil dalam jangkauan klien sehingga ia dapat mencari bantuan untuk mengambil pispot atau ke kamar mandi
10)   Lepaskan sarung tangan, buang ditempat semestinya
11)  Cuci tangan
12)  Kaji respon klien
13)  Dokumentasikan semua tindakan
c.       Tahap Terminasi
a.       Melakukan evaluasi tindakan
b.      Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
c.       Berpamitan dengan pasien/keluarga
d.      Membereskan alat-alat
e.       Mencuci tangan
Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

H.    Pengambilan Spesimen
Salah satu kontribusi perawat dalam pengkajian status kesehatan adalah mengambil spesimen dan cairan tubuh untuk pemeriksaan. Pemeriksaan spesimen biasanya dilakukan minimal satu kali pada tiap klien rawat. Tujuan pemeriksaan spesimen adalah menetapkan diagnosa masalah dan menilai respon klien terhadap terapi yang telah dijalani.
Tanggungjawab perawat dalam pemeriksaan spesimen adalah:
1.      Memberikan kenyamanan, mempertahankan privasi dan keamanan saat pengambilan spesimen
2.      Menjelaskan tujuan pemeriksaan
3.      Melakukan prosedur pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen dengan benar
4.      Mencatat informasi yang terkait dengan pemeriksaan pada lembaran dengan benar
5.      Melaporkan jika ditemukan hasil yang tidak normal
Supaya spesimen memenuhi syarat untuk diperiksa, maka proses pengambilan spesimen harus dilakukan dengan mengikuti kaidah yang benar. Spesimen yang memenuhi syarat adalah : jenisnya sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan, volumenya mencukupi untuk tiap jenis pemeriksaan, kondisinya layak untuk diperiksa (segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, steril, tidak menggumpal), antikoagulan yang digunakan sesuai, dan ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat.
Sebelum melakukan pengambilan spesimen, lakukan persiapan-persiapan seperti berikut ini :
1.      Persiapan pasien.
Beritahukan kepada pasien tentang hal-hal apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh pasien sebelum dilakukan pengambilan spesimen.
o   Persiapan secara umum, seperti : puasa selama 8-10 jam sebelum pengambilan spesimen (untuk pemeriksaan glukosa darah puasa, profil lipid, profil besi), tidak melakukan aktifitas fisik yang berat, tidak merokok, tidak minum alkohol, dsb.
o   Jika pasien harus melakukan pengambilan spesimen sendiri (urin, dahak, faeses), jelaskan tata cara pengambilannya. Misalnya : kapan harus diambil, bagaimana menampung spesimen dalam wadah yang disediakan, mencuci tangan sebelum dan setelah mengambil spesimen, membersihkan daerah genital untuk pengambilan sampel urin, dsb.
o   Jika pengambilan spesimen bersifat invasif (misalnya pengambilan sampel darah, cairan pleura, ascites, sumsum tulang, dsb), jelaskan macam tindakan yang akan dilakukan.
2.      Cara Pengambilan Spesimen Urin
Semua pengumpulan sample urine harus di lakukan pada specimen yang segar, khususnya yang berasal dari eliminasi urine sewaktu bangun tidur pagi karena specimen ini sangat pekat dan lebih besar kemmungkinanya untuk mengungkapkan abnormalitas. Specimen yang di ambil secara acak merupakan specimen yang memuaskan bagi kebanyakan urinalisis dengan syarat bahwa urine tersebut di kumpulkan dalam wadah yang bersih dan di lindungi terhadap kontaminasi bakteri serta perubahan kimiawi. Semua specimen harus di simpan di lemari pendingin segera setelah di peroleh. Jika di biarkan dalam suhu kamar urin akan menjadi alkalis akibat kontaminasi bakteri pemecah ureum dari lingkungan di sekitarnya. Pemeriksaan mikroskopik harus dilakukan dalam waktu setengah jam setelah di kumpulkan kelambatan memungkinkan specimen urine mengalami penguraian sel – sel dan poliperasi bakteri pada specimen non steril. Kultur urine harus segera di proses. Jika tindakan ini tidak mungkin di lakukan kultur tersebut harus di simpan dalam suhu 4 C atau 39 F.
a.   URIN BERSIH (clean voided urine specimen)
-       Urin bersih diperlukan untuk pemeriksaan urinalisa rutin.
-       Untuk pemeriksaan urinalisa rutin diperlukan:
-       Urin bersih, biasanya urin pertama pagi hari karena urin pertama cenderung konsentrasinya lebih tinggi, jumlah lebih banyak, dan memiliki pH lebih rendah.
-       Jumlah minimal 10mL
-        Tidak ada cara pengambilan khusus, klien dapat melakukannya sendiri, dengan menampung urin pada wadah yang disediakan, kecuali klien yang lemah, mungkin memerlukan bantuan.
-       Spesimen harus bebas dari feses
-       Diperlukan urin segar (pengambilan kurang dari 1 jam), bila tidak dapat diperiksa dengan segera, urin harus dimasukan dalam lemari es. Bila urin berada dalam suhu ruangan untuk periode waktu lama maka kristal urin dan sel darah merah akan lisis/hancur serta berubah menjadi alkalin.

b.   URIN TENGAH (clean-catch or midstream urin specimen)
-       Urin tengah merupakan cara pengambilan spesiman untuk pemeriksaan kultur urin yaitu untuk mengetahui mikroorganisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih Spesimen urine yang di keluarkan dengan cara yang umum biasanya tidak dapat di gunakan pemeriksaan bakteriologi akibat kontaminasi organism dari lingkungan di sekitar meatus uretra. Kontaminasi tersebut dapat di hindari dengan melakukan kateterisasi kandung kemih. Namun karena adanya kemungkinan terjadinya infeksi maka kateterisasi tidak di rekomendasikan untuk mendapatkan specimen urine kecuali adanya indikasi tertentu.
-       Teknik clean – catch midstream ( teknik ini mengambil urine di tengah – tengah pengeluaran urine saat buang air kecil dan bukan saat memulai dan mengakhiri dan di lakukan dengan cara – cara yang bersih.) akan memberikan cara – cara untuk melakukan pemeriksaan bakteriologi yang dapat di andalkan tanpa kateterisasi . Dalam pengambilan ini Jumlah yang diperlukan 30-60mL urine.
1)    Prosedur pada pasien laki – laki :
a.    Buka gland penis dan bersihkan dan bersihkan daerah di sekitar meatus dengan sabun hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang sudah di basahi dengan air
b.    Buang urine yang keluar pertamakali
c.    Kumpulkan bagian tengah urine dengan menggunakan wadah steril yang bermulut lebar dan di lindungi oleh tutup yang steri
d.    Jangan mengumpulkan beberapa tetes urine terakhir karena sekresi prostat dapat masuk kedalam pada akhir pencairan urine.
2)   Prosedur pada pasien wanita :
a.    Pisahkan kedua labia agar orifisium uretra tidak terhalang
b.   Bersihkan daerah sekitar meonatus urinarius dengan menggunakan spons yang di basahi dengan sabun cair
c.    Usap perineum dari depan kebelakang
d.   Hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang sudah di basahi dengan air dengan cara menghapusnya dari depan ke belakang
e.    Pertahankan agar labia tetap terpisah dan lakukan urinasi dengan kuat tetapi bagian pertama dan yang memancar keluar jangan di tampung ( kolon ) bakteri terdapat pada bagian distal orifisium uretra pancaran urine yang pertama akan membasuh dan membersihkanya dari kontra min asi uretra tersebut.
f.    Kumpulkan bagian pancaran tengah dari aliran urine dengan memastikan agar wadah yang dui gunakan untuk mengumpulkan specimen urine tidak mengenai alat kelamin.

c.    URIN TAMPUNG (timed urin specimen)
Beberapa pemeriksaan urin memerlukan seluruh produksi urin yang dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu, rentangnya berkisar 1-2 jam – 24 jam. Urin tampung ini biasanya disimpan di lemari pendingin atau diberi preservatif (zat aktif tertentu) yang mencegah pertumbuhan bakteri atau mencegah perubahan/kerusakan struktur urin. Biasanya urin ditampung di tempat kecil lalu dipindahkan segera ke penampungan yang lebih besar.
Adapun tujuan pemeriksaan yang menggunakan urin tampung adalah :
1)      mengkaji kemampuan ginjal mengkonsentrasikan dan mendilusi urin
2)      menentukan penyakit gangguan metabolisme glukosa
3)      menentukan kadar sesuatu dalam urin (misal: albumin, amilase, kreatinin, hormon tertentu)
Hal yang perlu dilakukan perawat:
1.    beri wadah yang telah disiapkan oleh pihak laboratorium
2.    jelaskan metodenya
3.    catat jam awal dan jam akhir menampung urin
d.   Spesimen Kateter Indwelling
         Urin steril dapat diperoleh dengan mengambil urin melalui area kateter yang khusus disiapkan untuk pengambilan urin dengan jarum suntik. Klem kateter selama kurang lebih 30 menit jika tidak diperoleh urin waktu pengambilan. Untuk kultur urin diperlukan 3 mL, dan 30 mL untuk urinalisa rutin. Untuk kultur urin, hati-hati dalam pengambilan agar tidak terkontaminasi.
Hal yang dapat di lakukan perawat ialah :
a.    Perawat melakukan infokonsent kepada klien
b.    Persiapkan alat yang di butuhkan dan wadah yang sudah di sediakan oleh lab
c.    Untuk kultur urin diperlukan 3 mL, dan 30 mL untuk urinalisa rutin
d.   Klem kateter selama kurang lebih 30 menit jika tidak diperoleh urin waktu pengambilan.
e.    Masukan urine kedalam tempat yang telah di sediakan

e.      PENGUMPULAN URINE 24 JAM
       Banyak pemeriksaan urine analisis kuantitatif di laksanakan pada specimen urine yang di kumpulkan selama prosedur waktu 24 jam untuk melaksanakan prosedur ini.
Prosedur persiapan pasien :
a.   Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih pada waktu yang di tentukan ( 8.00 pagi ) urine di buang
b.   Kumpulkan urine setelah 24 jam pengosongan kandung kemih
c.   Masukan specimen urine dalam wadah yang bersih
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
B.     Saran
Setiap perawat harus terampil dan dapat berkomunikasi dengan baik dan jelas, serta kreatif dalam pemberian asuhan keperawatan berdasar ilmu yang telah didapat. Perawat harus memperhatikan keadaan pasien sebelum melakukan komunikaasi keperawatan agar komunikasi yang  berlangsung dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dan perawat pun jangan lupa menerapkan etika dalam memberikan asuhan keperawatan,

DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik, Jakarta: EGC
Alimul, Aziz. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Massofa. www.wordpress.com. 2008. faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perilaku-dalam-berkomunikasi. 30 Maret 2011.
Purba, Jeni marlindawani, Skp. Zwani.com. 2008. Komunikasi Dalam Keperawataan. 1 April 2011.
www.blogspot.com. 2011. Askep perkemikan. 14 April 2011.