Rabu, 07 Maret 2012

GIZI USIA TODLER DAN PRA SEKOLAH


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Makanan Untuk Usia Toddler
Toddler adalah anak yang berusia 1-3 tahun. Makanan usia toddler banyak tergantung pada orang tua atau pengasuhnya, karena anak anak ini belum dapat menyebutkan nama makanan yang dia inginkan, dan orang tuanyalah yang memilihkan untuk anak. Jadi, dapat dikatakan bahwa tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun atau usia toddler sangat tergantung pada bagaimana orangtuanya mengatur makanan anaknya.
Kecepatan perkembangan turun ketika usia toddler. Kebutuhan anak akan nutrien relatif berkurang dibandingkan usia sebelumnya. Perhitungannya diutamakan pada kebutuhan kalori, protein, vitamin. Kalsium dan fospor pun penting untuk perkembangan tulang. Toddler lebih tertarik dalam lingkungan dan meningkatkan keterampilan motorik dibanding dengan makanan, maka dari itu makanan yang disajikan harus selalu bervariasi.
PRINSIP PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK
  1. Tinggi energi, protein, vitamin dan mineral
  2. Dapat diterima oleh anak dengan baik
  3. Diproduksi setempat dan menggunakan bahan-bahan setempat
  4. Mudah didapat dalam bentuk kering dengan demikian mudah disimpan dan praktis penggunaannya
  5. Ringkas tetapi mempunyai nilai gizi maksimum
 Hidangan merupakan jenis makanan yang disajikan untuk dimakan. Disini peran orang tua harus memutuskan apa yang anaknya harus makan, khususnya pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini anak bersifat konsumen pasif dan rentan terhadap penyakit gizi (KKP dan anemia) . Anak harus memutuskan seberapa banyak. Jadi tidak boleh memberlakukan ”habiskan makanan dipiringmu” tetapi ”cobalah sedikit segala makanan”.
Jenis makanan anak ini termasuk buah, kue, semua jenis makanan lunak dan makanan berasa, disamping asi atau susu yang mungkin masih diperlukan. Makanan lunak biasanya dikonsumsi bagi anak yang belum memilika geraham, anak berumur 1 ½ tahun – 2 tahun biasanya memiliki geraham maka bisa diberikan makanan biasa asalkan tidak pedas, berlemak, dan merangsang. Pemberian sayuran dan buah-buahan harus bervariasi, minyak dapat diganti margarin, gula pasir dapat diganti gula merah atau gula batu atau madu,
Usia toddler memerlukan minimum dua porsi (480 g) kelompok susu setiap hari untuk memberikan protein, kalsium, riboflavin, dan vitamin A da B12. Susu yang diperkaya memberikan vitamin D dan tambahan vitamin A. Keseluruhan susu harus digunakan sampai toddler mencapai usia 2 tahun untuk membantu meningkatkan asupan asam lemak yang cukup. Separuh dari asupan protein toddler harus mengandung nilai protein biologi tinggi.
Pada usia toddler biasanya lebih menyukai makanan manis seperti, cokelat, permen, dan eskrim. Sedangkan sayuran kurang disukai, keadaan ini harus lebih diperhatikan agar anak dapat menyukai berbagai jenis sayuran. Maka dari itu pemberian sayuran dan buah-buahan harus bervariasi, minyak dapat diganti margarin, gula pasir dapat diganti gula merah atau gula batu atau madu,
Makanan kecil boleh diberikan antara 2 waktu makan, sepanjang tidak mengurangi selera makan. Dalam keadaan tertentu anak lebih menyukai makanan kecil daripada makanan utama. Hal ini masih diperbolehkan selama kandungan nutrien dalam makanan kecil tersebut masih terpenuhi dan hal ini hanya bersifat sementara. Jadwal pemberian makan untuk usia ini tidak berbeda dengan jadwal makan orang dewasa.












Contoh Menu untuk Toddler Berdasarkan Piramida Makanan
Sarapan
½ cangir sereal kering dan tidak manis

½ cangkir jus jeruk

120 cc susu rendah lemak
Snack
½ - 1 buah pisang utuh
Makan siang
1 sdt selai kacang

1 sdt seluruh buah-buahan kaleng

1 tangkap roti gandum

2 sdt kacang polong

120 cc susu rendah lemak
Snack
2 bungkus krakers

120 cc susu rendah lemak
Makan malam
1 paha ayam, dibakar tanpa kulit

¼ - ½ cangkir macaroni dan keju

2 sdt kacang hijau, dimasak

120-180 cc susu rendah lemak
Snack
½ cangkir yogurt beku





B.     Makanan Untuk Usia Prasekolah
Prasekolah adalah anak yang berusia 4-6 tahun .Berbeda dengan anak usia toddler.  mereka sudah mulai dapat memilih apa yang disukai, dapat menyebutkan nama masakan yang pernah ia dengar namanya. Yang penting disini orangtua harus bijaksana tentang makananapa yang sebaiknya diperkenalkan pada mereka.
Pada usia prasekolah, anak menjadi konsumen aktif, yaitu mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Masa ini juga sering dikenal sebagai “ masa keras kepala “. Akibat pergaulan dengan lingkungannya terutama dengan anak-anak yang lebih besar, anak mulai senang jajan. Jika hal ini dibiarkan, jajanan yang dipilih dapat mengurangi asupan zat gizi yang diperlukan bagi tubuhnya sehingga anak kurang gizi.
Perilaku makan sangat dipengaruhi oleh kedaan psikologis, kesehatan, dan sosial anak. Oleh karena itu, kedaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam pemberian makan pada anak agar anak tidak cemas dan khawatir terhadap makanannya. Seperti pada orang dewasa, suasana yang menyenangkan dapat membangkitkan selera makan anak

1.  Manfaat Makanan
a.  Makanan sebagai sumber zat gizi
Didalam makanan terdapat enam jenis zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi ini diperlukan bagi anak sebagai zat tenaga, zat pembangun , dan zat pengatur.
1) Zat tenaga
Zat gizi yang menghasilkan tenaga atau energi adalah karbohidrat , lemak, dan protein. Bagi anak, tenaga diperlukan untuk melakukan aktivitasnya serta pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi sumber tenaga anak usia pra sekolah  relatif lebih besar daripada orang dewasa.
2) Zat Pembangun
Protein sebagai zat pembangun bukan hanya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan organ-organ tubuh anak saja, tetapi juga menggantikan jaringan yang aus atau rusak.
3) Zat pengatur
Zat pengatur berfungsi agar faal organ-organ dan jaringan tubuh termasuk otak dapat berjalan seperti yang diharapkan. Berikut ini zat yang berperan sebagai zat pengatur.
a)       Vitamin, baik yang larut air ( vitamin B kompleks dan vitamin C ) maupun yang larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K ).
b)      Berbagai mineral, seperti kalsium, zat besi, iodium, dan flour
c)       Air, sebagai alat pengatur vital kehidupan sel-sel tubuh.




2. Kebutuhan Gizi
Pada usia pra sekolah, diperlukan nutrisi antara lain:
  1. Karbohidrat: minimal 130 gr/hari, yang berfungsi sebagai sumber energi untuk otak, jadi diusahakan sebelum memulai aktivitas sebaiknya mengkonsumsi karbohidrat kompleks. misalnya roti, nasi, jagung, ketela, sagu, ubi jalar.
  2. Protein: berfungsi sebagai pertumbuhan, dianjurkan 3-5 porsi per hari. Sumber protein bisa terbagi menjadi dua yaitu: sumber protein hewani yang bisa didapat dari susu, telur, daging dan ikan. Dan protein nabati yang bisa didapat dari  kacang-kacangan, seperti kacang kedele, kacang hijau, kacang  merah; sayuran hijau atau berwarna, misalnya bayam, tomat, wortel; bahan makanan yang telah diproses terlebih dahulu, misalnya tahu, tempe.
  3. Lemak : terutama asam lemak esensial (Omega 3 & Omega 6), sangat baik untuk mata, syaraf, dan jaringan lain. Jumlah yg diperlukan secukupnya. Lemak biasanya didapat dari ikan, telur, susu,
  4. Vitamin dan mineral: vitamin A, D, E, K, B komplek dan C, dan untuk mineralnya Kalsium, Zat besi, dan lain-lain. Makanan yang mengandung vitamin didapat dari sayuran misalnya, jagung muda, wortel, bayam,cabe hijau, tomat, sawi, dll. Buah misalnya apokat, belimbing, apel, jeruk, mangga, jambu batu, dan yang terdapat dari hewan misalnya atam, hati sapi, telur itik, ikan segar, daging sapi.sedangkan sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lain-lain.Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah hati, daging merah (sapi, kambing, domba), daging putih (ayam, ikan), kacang-kacangan, sayuran hijau.
  5. Serat: jumlah yang diperlukan tergantung usianya berapa: (Usia + 5 gram). Sumber serat biasanya didapat dari kacang- kacangan, bayam,labu, pear,jambu biji,  agar-agar.
Anak usia pra sekolah dan sekolah masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, untuk itu berikan nutrisi yang sehat dan seimbang serta harus ditunjang dengan rangsangan lingkungan yang baik. Apabila kegemukan, jangan diberikan diet yang ketat , namun jika asupan gizi kurang, buatlah suasana makan menjadia menyenangkan.
Kelompok makanan. “Go” foods adalah makanan yang kaya zat nutrisi, rendah kandungan lemak jenuh dan kolesterolnya. Makanan ini dapat di konsumsi setiap saat, contoh: buah-buahan, sayuran, gandum, serelia, daging tanpa lemak, unggas tanpa ulit, kacang-kacangan, susu nonfat, telur dan air putih. “Slowfoods atau “Sometimesfoods adalah makanan yang tinggi lemak, kolesterol, dan kalori. Tidak boleh terlalu sering dikonsumsi, contoh: daging asap, daging berlemak, salad dressings, mayonais, susu, jus buah, dan buah kering. “Whoafoods adalah makanan yang tinggi kandungan lemak “jahat” dan kalori. Contoh: kentang goreng, buah kalengan, daging berlemak, ayam goreng dengan kulitnya, telur (termasuk kuning telur), kue-kue kering atau cookies, cake (termasuk bolu dan tart), popcorn yang disiram mentega cair, susu dan soda. Sayuran dan buah-buahan yang diberikan pun harus bervariasi, minyak dapat diganti margarin, gula pasir dapat diganti gula merah atau gula batu atau madu,

Kebutuhan gizi usia 4-6 Tahun
Kalori : beras, terigu dan hasil olahannya (mie, spagetti, macaroni), umbi-umbian, jagung, gula, dan lain-lain.
1200-1400 kalori / hari
Protein :  sumber protein hewani dari susu, telur, daging dan ikan. Dan protein nabati dari  kacang-kacangan, seperti kacang kedele, kacang hijau, kacang  merah; sayuran hijau atau berwarna, misalnya bayam, tomat, wortel; bahan makanan yang telah diproses terlebih dahulu, misalnya tahu, tempe.
. 5gm/lb (Misalnya £ 40 anak akan membutuhkan 20 gram protein / hari)
Kalsium : susu dan hasil olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lain-lain.
800 mg-1000mg/hari
Besi : hati, daging merah (sapi, kambing, domba), daging putih (ayam, ikan), kacang-kacangan, sayuran hijau.
10mg/hari
Serat : agar-agar
5-10gm hari (tambahkan 5 dengan usia anak Anda dalam tahun)
Buah-buahan : jeruk, pisang, pepaya, mangga, dan lain-lain
1,5 cangkir






C.  Hal Yang Mendorong Terjadinya Gangguan Gizi
 Ada beberapa hal yang sering merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi, khususnya gangguan gizi pada bayi dan anak usia toddler dan usia prasekolah adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka.
            Berbagai faktor yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak usia toddler dan usia pra sekolah  antara lain sebagai berikut:
a)   Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan
 Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang sungguhpun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya saja. Dengan demikian, kejadian gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik (cukup). Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan faedah makanan bagi kesehatan tubuh mempunyai sebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan anak balita.
Menurut Dr. Soegeng Santoso, M.pd, 1999, masalah gizi Karena kurang pengetahuan dan keterampilan dibidang memasak menurunkan komsumsi anak, keragaman bahan dan keragaman jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan misalnya kebosanan.

b)    Prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu
           Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau hanya digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan itu. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapat menurunkan harkat keluarga. Jenis sayuran seperti genjer, daun turi, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga.
c)    Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan
            Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makan makanan tertentu masih sering kita jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan, ataupun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada datanya dan hanya diwarisi secara dogmatis turun temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya.

             Kadang-kadang kepercayaan orang akan sesuatu makanan anak kecil membuat anak sulit mendapat cukup protein. Beberapa orang tua beranggap ikan, telur, ayam, dan jenis makanan protein lainnya memberi pengaruh buruk untuk anak kecil. Anak yang terkena diare malah dipuasakan (tidak diberi makanan). Cara pengobatan seperti ini akan memperburuk gizi anak. ( Dr. Harsono, 1999).


d)    Kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu
           Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan akan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.
e)   Jarak kelahiran yang terlalu rapat
           Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adiknya yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik.
             Anak yang dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang, jika dalam masa 2 tahun itu ibu sudah hamil lagi, maka bukan saja perhatian ibu terhadap anak akan menjadi berkurang.akan tetapi air susu ibu ( ASI ) yang masih sangat dibutuhkan anak akan berhenti keluar.
              Anak yang belum dipersiapkan secara baik untuk menerima makanan pengganti ASI, yang kadang-kadang mutu gizi makanan tersebut juga sangat rendah, dengan penghentian pemberian ASI karena produksi ASI berhenti, akan lebih cepat mendorong anak ke jurang malapetaka yang menderita gizi buruk, yang apabila tidak segera diperbaiki maka akan menyebabkan kematian. Karena alasan inilah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga, disamping memperbaiki gizi juga perlu dilakukan usaha untuk mengatur jarak kelahiran dan kehamilan.
f)    Sosial Ekonomi
              Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang disajikan. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan.
g)    Penyakit infeksi
           Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan. Diare dan muntah dapat menghalangi penyerapan makanan.
Penyakit-penyakit umum yang memperburuk keadaan gizi adalah: diare, infeksi saluran pernapasan atas, tuberculosis, campak, batuk rejan, malaria kronis, cacingan. ( Dr. Harsono, 1999).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar